Menjadi pribadi yang biru seperti langit, harum seperti melati, jernih seperti air, dan luas seperti lautan.
20 Sep 2013
List to do
Newest Timetable
Rabu 18 September: Ngurus berkas penerimaan beasiswa pertamina foundation
Kamis 19 September: Time keeping, food coordinator Pertamina Foundation
Jumat 20 September: Ngajuin proposal ke ketua jurusan. Sore jadi narasumber diskusi KSM. Malem Rapat SBGS
Sabtu 21 September: pagi Kumpul IKA Pertamina Foundation di Sarinah Jakarta. Siang: proyek simposium pendidikan
Minggu 22 September: Ikut Japan Scholarship Expo. sore skripsi
Senin 23 September: Bab II di perpusat, PKM M.
Selasa 24 Septmber: Kuliah Full
Rabu 25 September: sore Ngajar anak2 Rohingnya
Kamis 26 September: selesaikan proyek simposium
Jumat 27 September: Rapat fiksasi SBGS di Roti bakar edy.
Rabu 18 September: Ngurus berkas penerimaan beasiswa pertamina foundation
Kamis 19 September: Time keeping, food coordinator Pertamina Foundation
Jumat 20 September: Ngajuin proposal ke ketua jurusan. Sore jadi narasumber diskusi KSM. Malem Rapat SBGS
Sabtu 21 September: pagi Kumpul IKA Pertamina Foundation di Sarinah Jakarta. Siang: proyek simposium pendidikan
Minggu 22 September: Ikut Japan Scholarship Expo. sore skripsi
Senin 23 September: Bab II di perpusat, PKM M.
Selasa 24 Septmber: Kuliah Full
Rabu 25 September: sore Ngajar anak2 Rohingnya
Kamis 26 September: selesaikan proyek simposium
Jumat 27 September: Rapat fiksasi SBGS di Roti bakar edy.
19 Sep 2013
Seperti Camar Putih
Hanya pada
Dia aku berdzikir,
Serahkan
semua lelah.
Tetap pada
kutub berpusat pada-Nya,
Kuserahkan semua
beban hidup.
Hanya ku nikmati
alam yang membebaskan.
Seperti laut
yang biru, begitu lepas.
Seperti
langit yang cerah, putih, dan bersih.
Hanya ku nikmati
hidup ini,
lewat titah
Sang Esa,
atas nikmat
lautan dan langit.
Cukuplah tahu
akan kuasa-Nya pada setiap napas,
pada setiap
desir angin yang menopang sayap ini.
Hanya pada
Dia ku berdzikir,
demi amanah
penciptaan yang begitu agung.
Ku nikmati
setiap terpaan badai,
ku syukuri
setiap semburan ombak,
dan ku tabahi
setiap tatapan karang.
Seperti camar
putih,
terbang bebas
di antara langit dan laut.
“Galakkan KUR untuk Memacu Ekonomi Daerah Perbatasan: Memerah Rejeki dari Susu Kerbau Pulau Moa”
Masyarakat perbatasan
merupakan masyarakat yang sarat dengan upaya penguatan keutuhan NKRI (Negara Kesatuan
Republik Indonesia), selain itu seharusnya kondisi kehidupan mereka juga
merupakan cerminan kondisi bangsa Indonesia secara keseluruhan oleh karena
sebuah rumah itu biasanya tergambar dari tampilan berandanya, dan masyarakat
perbatasan adalah beranda NKRI. Akan tetapi yang terjadi di Indonesia justru
kondisi masyarakat di beranda depan NKRI terutama dari segi ekonomi mengalami
kebobrokan yang cukup berarti, hal ini disebabkan oleh kurang meratanya upaya
pembangunan berbagai infrastruktur daerah sehingga masyarakat di sana mengalami
keterbatasan untuk mengakses informasi dan berbagai fasilitas hidup yang lain.
Kurang masksimalnya pelaksanaan otonomi daerah dan tugas pembantuan juga
mungkin menjadi salah satu penyebab dari kondisi tersebut.
Berbagai upaya pembangunan
dilaksanakan oleh pemerintah untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat desa di
seluruh Indonesia termasuk wilayah perbatasan, salah satunya melalui program
PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) Mandiri yang sepertinya sudah
cukup mengena dan tepat sasaran. Secara khusus untuk menyentuh bidang ekonomi
masyarakat, Pemerintah mengadakan program KUR (Kredit Usaha Rakyat) dengan
tujuan untuk membantu mengembangkan wirausaha yang dilakukan berbagai lapisan
masyarakat agar mampu bersaing, dan sustainable.
Program KUR tersebut sangat baik terutama untuk para pelaku usaha yang
sedang mulai merintis usahanya sementara mereka terkendala terkait permodalan,
akan tetapi tampaknya selama ini program tersebut hanya efektif bagi masyarakat
di daerah yang akses informasi dan komunikasinya lancar, seperti daerah-daerah
di Jawa dan Sumatera. Sebagaimana tujuan dibentuknya program KUR seyogianya
kesejahteraan masyarakat menjadi benar-benar merata, menyentuh semua pelaku
usaha di seluruh daerah di Indonesia termasuk daerah perbatasan, karena pada
kenyataannya banyak sekali pelaku usaha dari pelosok Indonesia yang mempunyai skill untuk usaha ditambah lagi potensi
SDA yang memadai akan tetapi mereka terkendala modal dan mereka belum mengenal
bahkan tidak mengetahui keberadaan program KUR.
Kondisi seperti di atas
terjadi pada masyarakat yang ada di Desa Werwaru, Pulau Moa, Maluku Barat Daya.
Kondsi alam yang cukup subur, kondisi geografis yang mendukung membuat daerah
tersebut terkenal dengan potensi peternakan kerbau yang cukup prospektif. Hampir
setiap KK (Kepala Keluarga) di Desa
Werwaru berternak kerbau dan di Desa werwaru sendiri terdapat ribuan kerbau
yang potensi ekonominya belum berhasil diolah dengan baik. Salah satu prospek
yang cukup serius terdapat pada susu yang dihasilkan oleh kerbau Pulau Moa
terutama yang ada di Desa Werwaru, karena susu kerbau memiliki cita rasa yang
tidak kalah enak dengan susu sapi, tidak amis, dan sedikit harum, selain itu
jumlah yang melimpah juga menjadi modal utama untuk pengembangan usaha lebih
lanjut. Faktanya masyarakat Desa Werwaru kesulitan memperoleh akses informasi
bagaimana cara mengolah susu kerbau menjadi suatu produk industri yang
menjanjikan. Selama ini susu kerbau hanya di konsumsi sehari-hari oleh masyarakat,
sekali peras susu tersebut harus langsung dihabiskan. Ide dari mayarakat di
sana untuk mencoba menjadikan susu kerbau menjadi bahan makanan yang awet juga
muncul dari berbagai percobaan menggunakan getah kayu leru, dan juga getah
papaya, sementara susu kerbau hanya bisa tahan selama dua hari. Hal ini menjadikan ekonomi masyarakat Desa
Werwaru menjadi semacam ekonomi yang subsistence,
potensi alam yang mereka hasilkan hanya habis untuk konsumsi sehari-hari
sehingga membuat perekonomian mereka susah berkembang.
Dengan adanya KUR,
masyarakat Werwaru bisa memperoleh modal
dengan mudah terutama untuk mengikuti berbagai pelatihan pengolahan susu kerbau
di berbagai instansi, kemudian setelah itu mereka bisa memulai usaha pengolahan
susu kerbau secara serius. Sebenarnya di Desa werwaru sudah terdapat sebuah
Koperasi Simpan Pinjam (KSP) yang bernama SPP Werwaru (Simpan Pinjam Perempuan
Werwaru), akan tetapi jumlah dana yang bisa diputar di dalam KSP itu sangat
terbatas, sehingga para pelaku usaha yang hendak meminjam dana untuk modal juga
sangat terbatas. Oleh karenanya dengan penyaluran KUR secara tidak langsung
misalnya melalui KSP yang ada di Desa Werwaru, Pulau Moa khususnya, masyarakat
Desa Werwaru bisa memperoleh modalnya dengan mudah untuk memulai usaha pengolahan
susu kerbau dengan baik. Dengan adanya KUR yang pemberiannya sampai kepada
masyarakat Werwaru ini, mereka merasa aman untuk memulai usahanya, tidak perlu
khawatir akan keberatan pengembalian kreditnya karena jangka waktu yang
dtentukan tidak begitu ketat.
Modal yang diperoleh dari
KUR dapat dimanfaatkan oleh kelompok peternak kerbau untuk membeli peralatan
yang diperlukan untuk usaha pengolahan susu kerbau, membiayai pelatihan yang
diadakan oleh instansi terkait, akomodasi, dan lain sebagainya. Selama ini
masyarakat Werwaru tidak pernah bisa memutar modalnya secara signifikan, karena
keterbatasan kemampuan Koperasi SPP dalam memberikan pinjaman modal, oleh
karena usaha yang dilakukan hanya berskala sangat kecil dan susah memperoleh
surplus.
Masyarakat Desa Werwaru
sangat optimis bahwa usaha pengolahan susu kerbau Pulau Moa mempunyai prospek
yang bagus terkait dengan keunggulan-keunggulan yang telah dipaparkan
sebelumnya. Suplai susu kerbau juga tidak akan pernah habis, mengingat
perkembangbiakan kerbau itu cukup mudah dan cepat, lokasi industri pengolahan
langsung dekat dengan sumbernya, selain itu terdapat faktor pendukung lain yaitu sedang dibangun
sebuah lapangan terbang di desa yang bersebelahan dengan Desa Werwaru, hal itu
tentunya akan menjadi cambuk pelecut majunya industri pengolahan susu kerbau
Pulau Moa oleh masyarakat Desa Werwaru.
Di Provinsi Maluku memang
belum ada Bank Pembangunan Daerah yang ikut melaksanakan Penjaminan Pembiayaan
UMKMK (Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi) secara langsung, akan tetapi
sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa KUR tersebut dapat
disalurkan kepada masyarakat perbatasan umumnya dan masyarakat Werwaru
khususnya secara tidak langsung melalui Koperasi Simpan Pinjam (KSP) yang telah
ada sebelumnya. Dengan demikian tujuan pembentukan program KUR akan terlaksana
dengan baik, pencapaian tujuan benar-benar terwujud apabila melalui program
KUR, kesejahteraan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia termasuk wilayah
perbatasan benar-benar terealisasi.
Pembangunan ekonomi
masyarakat Indonesia memang tidak bisa dicapai dengan cara yang instan, hal tersebut
memerlukan proses yang penting, salah satunya dengan perwujudan program KUR
yang bisa benar-benar menyentuh seluruh lapisan wilayah terutama di perbatasan.
Hal ini terkait pernyataan awal bahwa masyarakat di beranda depan NKRI
membutuhkan sentuhan pembangunan yang extra
terutama di bidang perekonomian. Mereka adalah kunci kemakmuran bangsa
Indonesai secara keseluruhan, mereka adalah tonggak terkuat untuk menjaga
keutuhan bangsa Indonesia sehingga untuk tetap menjaga keutuhan bangsa
Indonesia, masyarakat di perbatasan harus benar-benar diperhatikan. Dunia
kewirausahaan di perbatasan harus benar-benar dicambuk sebagai upaya perwujudan
pemerataan kesejahteraan bangsa Indonesia. Jadi intinya konsep wirausaha rakyat
perbatasan itu membutuhkan perhatian khusus agar pergerakan roda perekonomian
di daerah perbatasan tidak terus-terusan merangkak.
Pencapaian tujuan program
KUR ini tidak hanya tepat bagi usaha
atau bisnis yang sudah terkemas dengan bagus, justru KUR ini harus mampu
memfasilitasi ide-ide masyarakat terutama yang ada diperbatasan agar mereka
mampu memanfaatkan potensi SDA lokal dengan baik. Meminjam pemikiran dari
Boeke, seorang pakar koperasi Internasional bahwa sekat antara sistem
perekonomian yang subsisten dengan sistem perekonomian komersil itu dapat
diciptakan melalui sistem Koperasi Simpan Pinjam, dan hal ini ternyata telah
diupayakan oleh pemerintah kita melalui
program KUR tersebut, oleh karenanya kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat di
perbatasan khususnya Desa Werwaru, Pulau Moa, Maluku Barat Daya harus
benar-benar tercipta dengan adanya program KUR tersebut. Apabila perekonomian
di perbatasan terangkat, keseimbangan kesejahteraan bangsa Indonesia pun akan
terwujud, sehingga berbagai konflik baik
internal maupun eksternal bangsa Indonesia sendiri yang salah satunya dipicu
oleh faktor ekonomi bisa ditekan seminimal mungkin. Oleh karena itu konsep
wirausaha perbatasan yang berbasis potensi SDA lokal harus mulai dikembangkan
melalui KUR untuk mewujudkan kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia.
Pembekalan Pendidikan Pancasila Berbasis Praktik kepada Guru-guru di Sekolah dalam kriteria 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal) sebagai solusi masalah Kekerasan pada Siswa di Daerah Perbatasan
Pasal 3 Undang-undang No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) menjelaskan bahwa pada intinya
pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab. Untuk itu Pemerintah dan segenap stake holder yang berkepentingan terhadap
hal ini harus bisa mewujudkan tujuan pendidikan nasional tersebut bagi seluruh
bangsa Indonesia termasuk pula bangsa yang ada di daerah perbatasan.
Berkaitan dengan permasalahan ini
pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan berupa bantuan implementasi
kurikulum baru yakni kurikulum tahun 2013[1],
yang nota bene menurut penulis belum memenuhi standar kebutuhan yang
sesungguhnya terutama bagi tenaga pendidik di daerah perbatasan. Selain itu
terdapat juga program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan
Tertinggal (SM-3T)[2].
Seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat
di beranda depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) saat ini menjadi
masyarakat yang cukup terisolasi, jauh dari jangkauan informasi. Hal ini
membuat para guru dan juga siswa yang ada di sana seakan terkungkung dengan
belenggu budaya yang kaku dan terkadang tidak bersahabat. Hal ini sebagaimana
telah terjadi di salah satu daerah perbatasan Indonesia-Timor Leste[3]
dimana rata-rata guru dan siswa terbiasa dengan budaya yang keras. Para guru
yang ada di sana biasa memperingatkan siswa yang “nakal” dengan cara mencubit,
memukul, bahkan menampar. Kebiasaan para siswa untuk meluapkan kekesalan
terhadap sesama teman pun tak jarang diwujudkan dengan berkelahi (main fisik). Hal-hal seperti itulah yang
juga tak kalah penting untuk diperhatikan oleh pemerintah kita sebagai pemberi
kebijakan.
Saat ini semua jenjang pendidikan baik
pendidikan dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi tidak lagi menerapkan mata
ajar Pendidikan Pancasila dan Implementasinya, yang ada hanyalah murni
pendidikan kewarganegaraan. Terkait dengan permasalahan di atas, sudah
sepantasnya pemerintah bijak dalam menangani hal ini, Pendidikan Pancasila
menjadi sangat penting sebagai sebuah tameng dari degradasi moral bangsa
Indonesia. Jadi para guru yang akan ditempatkan di sekolah-sekolah dengan
kriteria 3T[4]
harus dibekali Pendidikan Pancasila yang nantinya akan ditularkan atau
diajarkan kepada anak didiknya. Pendidikan Pancasila yang wajib dibekalkan
kepada mereka ini juga tidak hanya berupa teori yang mengambil dari butir-butir
Pancasila saja melainkan diajarkan berbagai nilai yang terkandung sekaligus
dicontohkan oleh para guru tersebut. Dalam hal ini guru berperan sebagai
pemberi teladan yang sangat mutlak, baik itu dilakukan secara langsung
(diterapkan dalam berinteraksi dengan anak didiknya) maupun secara tidak
langsung (diterapkan dalam interaksinya kepada sesama tenaga pendidik).
Langkah-langkah implementasi nilai-nilai
yang ada di dalam Pendidikan Pancasila untuk memberikan stimulus kepada peserta didik juga dapat dilaksanakan oleh guru
melalui pemberian kesempatan kepada peserta didik untuk aktif memberikan contoh
perbuatan nyata yang dapat dilakukan sehari-hari serta mengingatkan peserta
didik yang salah dengan cara yang lembut dan sopan. Apabila hal tersebut
berhasil dilaksanakan diharapkan terjadi keterbukaan komunikasi yang nyata
antara para guru dan peserta didiknya, tidak ada lagi kekerasan-kekerasan yang
dilakukan oleh guru kepada siswa, ataupun kekerasan antar para siswa itu
sendiri. Efek domino yang positif dari upaya ini tentunya akan menjalar kepada
struktur masyarakat yang lebih luas, baik guru maupun siswa akan terbiasa
berbuat sesuai dengan nilai-nilai Pancasila di manapun mereka berada, misalnya
di dalam keluarga maupun di lingkungan masyarakat luas.
Dengan dilaksanakannya pembekalan
Pendidikan Pancasila yang berbasis praktik bagi guru yang akan ditempatkan di
sekolah dengan kriteria 3T ini, diharapkan mampu mengatasi rendahnya akhlak
(perangai) dan moralitas terutama masalah kekerasan yang terjadi pada siswa di
daerah perbatasan.
[1]
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pedoman
Pemberian Bantuan Implementasi Kurikulum Tahun 2013, hlm. 21. (Di dalamnya
terdapat pedoman bimbingan teknis untuk peserta didik dengan kriteria 3T,
sayangnya di dalam pedoman tersebut tidak menunjukkan diikutsertakannya mata
pelajaran yang sangat penting bagi moralitas bangsa yakni pendidikan
Pancasila).
[2]
http://unnes.ac.id/wp-content/uploads/Guru%20Masa%20Depan-Pak%20Heri.pdf,
diunduh pada tanggal 8 September 2013.
[3]
Yakni Pulau Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Berdasarkan
pengalaman empiris yang dialami oleh penulis sendiri selama mengikuti program
Kuliah Kerja Nyata (K2N) UI 2012 pada tanggal 29 Juni-26 Juli 2013.
[4]
Berkaitan dengan hal ini sesungguhnya tidak terbatas bagi guru yang akan
ditempatkan di sekolah-sekolah dengan criteria 3T, akan tetapi semua guru yang
ada di Indonesia harus mendapatkan bekal tersebut.
Ternyata sudah (menikah)
Kyaaaa...setelah melalui berbagai konspirasi hati dan kudeta pemikiran akhirnya aku putuskan untuk menulikan kisah ini (ceilaahhh..kisah!!).
Well jadi ceritanya ni ya, aku sebut dengan "2 hari yang mengubah duniaku" (hakdess!!) hehehe. 2 hari ini aku disibukkan dengan satu proyek yang diadakan oleh sebuah perusaan monopoli terbesar di Indonesia (nomention). Di situ aku berinteraksi dengan beberapa teman baru yang cukup hebat. Mereka semua cerdas-cerdas dan bersahaja. Trus ni ya, aku intens banget kerja bareng sama sesorang (hmm...) karena memang tugas aku sama dia meng-handle bagian HR. 2 hari ini cukup lah untuk mengenal sosok seseorang itu, dia baik, ramah, sederhana, cerdas, lembut, dan alim (Inshaa Allah). Ini bukan masalah "ghadul bashar" ya kawan. Siipp..sekali lagi bukan masalah "ghadul bashar", karena ini semua murni tentang apa yang aku rasain bukan apa yang aku lihat.
Dengan terus beristighfar aku memohon pada Allah (Ya Allah jagalah hatiku dan peliharalah pandanganku, aamiin) sambil terus berusaha untuk profesional. Aku semakin mengagumi seseorang itu, dia tanggap dalam bekerja, cekatan, dan tak kenal lelah, subhanallah. Akhirnya 2 hari pun berlalu begitu saja, dengan menyisakan sedikit rasa yang aku sendiri tak tau apa artinya, aku mulai mengalami sebuah fitrah manusia yang kadang menurutku kurang etis.
Yak..aku mulai cari tau segala hal tentang dia alias Kepoin dia. Allahuakbar..Ya Allah ampuni hamba... aku sadar sesadar-sadarnya, itu harusnya tak layak aku lakukan dan harus segera dialihkan ke hal lain agar lebih bermanfaat. Tapi sekali lagi ini fitrah kawan.. fitrah.. hehe (ngeles dikit boleh lah!). setelah beberapa menit surfing di internet, akhirnya aku dapetin akun jejaring sosialnya.
Alhamdulillah..lega, pertama-pertamanya sih masih berbunga-bunga (Astaghfirullahal'adhim..), tambah kagumnya lagi nih ya, ternyata dia jago nasyid. Waahh... memang lengkap deh kelebihan seseorang ini. Nahh..akhirnya ni setelah berkepo ria selama beberapa menit sampailah aku pada kndisi yang scukup menegangkan (????), aku lihat fotonya saat walimatul 'ursy.. Artinya dia sudah (menikah) kawan. Allahuakbar, baiklah aku sadar dan memang tak seharusnya aku memiliki perasaan yang sedemikian rupa tak pantas ini. Tak henti-hentinya hati ini beristighfar dan segera meangis. Oke pelajaran kawan, berharga banget, bener-bener berharga.
Akhirnya aku sadar memang "mengagumi tak harus mencintai, dan mencintai tak harus memiliki", kyaaaaaaa.... Semoga kakak bahagia, sakinah, mawadah, dan rahmah, aamiin. Terimakasih atas pelajaran yang diberikan selama 2 hari ini, terimakasih atas perkenalannya, dan terimakasih atas kekaguman ini.
Langganan:
Postingan (Atom)