19 Sep 2013

“Galakkan KUR untuk Memacu Ekonomi Daerah Perbatasan: Memerah Rejeki dari Susu Kerbau Pulau Moa”

Masyarakat perbatasan merupakan masyarakat yang sarat dengan upaya penguatan keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), selain itu seharusnya kondisi kehidupan mereka juga merupakan cerminan kondisi bangsa Indonesia secara keseluruhan oleh karena sebuah rumah itu biasanya tergambar dari tampilan berandanya, dan masyarakat perbatasan adalah beranda NKRI. Akan tetapi yang terjadi di Indonesia justru kondisi masyarakat di beranda depan NKRI terutama dari segi ekonomi mengalami kebobrokan yang cukup berarti, hal ini disebabkan oleh kurang meratanya upaya pembangunan berbagai infrastruktur daerah sehingga masyarakat di sana mengalami keterbatasan untuk mengakses informasi dan berbagai fasilitas hidup yang lain. Kurang masksimalnya pelaksanaan otonomi daerah dan tugas pembantuan juga mungkin menjadi salah satu penyebab dari kondisi tersebut.
Berbagai upaya pembangunan dilaksanakan oleh pemerintah untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat desa di seluruh Indonesia termasuk wilayah perbatasan, salah satunya melalui program PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) Mandiri yang sepertinya sudah cukup mengena dan tepat sasaran. Secara khusus untuk menyentuh bidang ekonomi masyarakat, Pemerintah mengadakan program KUR (Kredit Usaha Rakyat) dengan tujuan untuk membantu mengembangkan wirausaha yang dilakukan berbagai lapisan masyarakat agar mampu bersaing, dan sustainable. Program KUR tersebut sangat baik terutama untuk para pelaku usaha yang sedang mulai merintis usahanya sementara mereka terkendala terkait permodalan, akan tetapi tampaknya selama ini program tersebut hanya efektif bagi masyarakat di daerah yang akses informasi dan komunikasinya lancar, seperti daerah-daerah di Jawa dan Sumatera. Sebagaimana tujuan dibentuknya program KUR seyogianya kesejahteraan masyarakat menjadi benar-benar merata, menyentuh semua pelaku usaha di seluruh daerah di Indonesia termasuk daerah perbatasan, karena pada kenyataannya banyak sekali pelaku usaha dari pelosok Indonesia yang mempunyai skill untuk usaha ditambah lagi potensi SDA yang memadai akan tetapi mereka terkendala modal dan mereka belum mengenal bahkan tidak mengetahui keberadaan program KUR.
Kondisi seperti di atas terjadi pada masyarakat yang ada di Desa Werwaru, Pulau Moa, Maluku Barat Daya. Kondsi alam yang cukup subur, kondisi geografis yang mendukung membuat daerah tersebut terkenal dengan potensi peternakan kerbau yang cukup prospektif. Hampir setiap  KK (Kepala Keluarga) di Desa Werwaru berternak kerbau dan di Desa werwaru sendiri terdapat ribuan kerbau yang potensi ekonominya belum berhasil diolah dengan baik. Salah satu prospek yang cukup serius terdapat pada susu yang dihasilkan oleh kerbau Pulau Moa terutama yang ada di Desa Werwaru, karena susu kerbau memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan susu sapi, tidak amis, dan sedikit harum, selain itu jumlah yang melimpah juga menjadi modal utama untuk pengembangan usaha lebih lanjut. Faktanya masyarakat Desa Werwaru kesulitan memperoleh akses informasi bagaimana cara mengolah susu kerbau menjadi suatu produk industri yang menjanjikan. Selama ini susu kerbau hanya di konsumsi sehari-hari oleh masyarakat, sekali peras susu tersebut harus langsung dihabiskan. Ide dari mayarakat di sana untuk mencoba menjadikan susu kerbau menjadi bahan makanan yang awet juga muncul dari berbagai percobaan menggunakan getah kayu leru, dan juga getah papaya, sementara susu kerbau hanya bisa tahan selama dua hari.  Hal ini menjadikan ekonomi masyarakat Desa Werwaru menjadi semacam ekonomi yang subsistence, potensi alam yang mereka hasilkan hanya habis untuk konsumsi sehari-hari sehingga membuat perekonomian mereka susah berkembang.
Dengan adanya KUR, masyarakat Werwaru bisa memperoleh  modal dengan mudah terutama untuk mengikuti berbagai pelatihan pengolahan susu kerbau di berbagai instansi, kemudian setelah itu mereka bisa memulai usaha pengolahan susu kerbau secara serius. Sebenarnya di Desa werwaru sudah terdapat sebuah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) yang bernama SPP Werwaru (Simpan Pinjam Perempuan Werwaru), akan tetapi jumlah dana yang bisa diputar di dalam KSP itu sangat terbatas, sehingga para pelaku usaha yang hendak meminjam dana untuk modal juga sangat terbatas. Oleh karenanya dengan penyaluran KUR secara tidak langsung misalnya melalui KSP yang ada di Desa Werwaru, Pulau Moa khususnya, masyarakat Desa Werwaru bisa memperoleh modalnya dengan mudah untuk memulai usaha pengolahan susu kerbau dengan baik. Dengan adanya KUR yang pemberiannya sampai kepada masyarakat Werwaru ini, mereka merasa aman untuk memulai usahanya, tidak perlu khawatir akan keberatan pengembalian kreditnya karena jangka waktu yang dtentukan tidak begitu ketat.
Modal yang diperoleh dari KUR dapat dimanfaatkan oleh kelompok peternak kerbau untuk membeli peralatan yang diperlukan untuk usaha pengolahan susu kerbau, membiayai pelatihan yang diadakan oleh instansi terkait, akomodasi, dan lain sebagainya. Selama ini masyarakat Werwaru tidak pernah bisa memutar modalnya secara signifikan, karena keterbatasan kemampuan Koperasi SPP dalam memberikan pinjaman modal, oleh karena usaha yang dilakukan hanya berskala sangat kecil dan susah memperoleh surplus.
Masyarakat Desa Werwaru sangat optimis bahwa usaha pengolahan susu kerbau Pulau Moa mempunyai prospek yang bagus terkait dengan keunggulan-keunggulan yang telah dipaparkan sebelumnya. Suplai susu kerbau juga tidak akan pernah habis, mengingat perkembangbiakan kerbau itu cukup mudah dan cepat, lokasi industri pengolahan langsung dekat dengan sumbernya, selain itu terdapat  faktor pendukung lain yaitu sedang dibangun sebuah lapangan terbang di desa yang bersebelahan dengan Desa Werwaru, hal itu tentunya akan menjadi cambuk pelecut majunya industri pengolahan susu kerbau Pulau Moa oleh masyarakat Desa Werwaru.
Di Provinsi Maluku memang belum ada Bank Pembangunan Daerah yang ikut melaksanakan Penjaminan Pembiayaan UMKMK (Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi) secara langsung, akan tetapi sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa KUR tersebut dapat disalurkan kepada masyarakat perbatasan umumnya dan masyarakat Werwaru khususnya secara tidak langsung melalui Koperasi Simpan Pinjam (KSP) yang telah ada sebelumnya. Dengan demikian tujuan pembentukan program KUR akan terlaksana dengan baik, pencapaian tujuan benar-benar terwujud apabila melalui program KUR, kesejahteraan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia termasuk wilayah perbatasan benar-benar terealisasi.
Pembangunan ekonomi masyarakat Indonesia memang tidak bisa dicapai dengan cara yang instan, hal tersebut memerlukan proses yang penting, salah satunya dengan perwujudan program KUR yang bisa benar-benar menyentuh seluruh lapisan wilayah terutama di perbatasan. Hal ini terkait pernyataan awal bahwa masyarakat di beranda depan NKRI membutuhkan sentuhan pembangunan yang extra terutama di bidang perekonomian. Mereka adalah kunci kemakmuran bangsa Indonesai secara keseluruhan, mereka adalah tonggak terkuat untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia sehingga untuk tetap menjaga keutuhan bangsa Indonesia, masyarakat di perbatasan harus benar-benar diperhatikan. Dunia kewirausahaan di perbatasan harus benar-benar dicambuk sebagai upaya perwujudan pemerataan kesejahteraan bangsa Indonesia. Jadi intinya konsep wirausaha rakyat perbatasan itu membutuhkan perhatian khusus agar pergerakan roda perekonomian di daerah perbatasan tidak terus-terusan merangkak.
Pencapaian tujuan program KUR ini tidak hanya tepat bagi usaha atau bisnis yang sudah terkemas dengan bagus, justru KUR ini harus mampu memfasilitasi ide-ide masyarakat terutama yang ada diperbatasan agar mereka mampu memanfaatkan potensi SDA lokal dengan baik. Meminjam pemikiran dari Boeke, seorang pakar koperasi Internasional bahwa sekat antara sistem perekonomian yang subsisten dengan sistem perekonomian komersil itu dapat diciptakan melalui sistem Koperasi Simpan Pinjam, dan hal ini ternyata telah diupayakan  oleh pemerintah kita melalui program KUR tersebut, oleh karenanya kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat di perbatasan khususnya Desa Werwaru, Pulau Moa, Maluku Barat Daya harus benar-benar tercipta dengan adanya program KUR tersebut. Apabila perekonomian di perbatasan terangkat, keseimbangan kesejahteraan bangsa Indonesia pun akan terwujud,  sehingga berbagai konflik baik internal maupun eksternal bangsa Indonesia sendiri yang salah satunya dipicu oleh faktor ekonomi bisa ditekan seminimal mungkin. Oleh karena itu konsep wirausaha perbatasan yang berbasis potensi SDA lokal harus mulai dikembangkan melalui KUR untuk mewujudkan kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia.


1 komentar:

  1. Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.

    Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.

    Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.

    Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.

    Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut

    BalasHapus